Tampilkan postingan dengan label premanisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label premanisme. Tampilkan semua postingan

4 Juni 2010

Korupsi gaya baru : Dana Aspirasi

Saya heran dengan Orang-orang sekarang (DPR) mau korupsi kok pake istilah dana aspirasi segala..., wong sudah jelas mereka duduk saja dibayar, malah minta dana aspirasi, trus dana ( GAJI ) yang mereka dapatkan itu untuk membayar pekerjaan mereka dibidang apa??? wong mereka dibayar memang untuk menyalurkan aspirasi rakyat bukan untuk jualan jamu, heran... saya benar-benar heran... apa mereka tidak punya :maaf hati nurani ya...kok ya tega-teganya mau menari-nari diatas derita rakyat yang kesulitan mendapatkan sembako, pupuk, bbm, pekerjaan, keadilan hukum dan masih banyak kebutuhan rakyat yang belum terpenuhi.

Bapak-bapak yang 1/2 terhormat mohon dipikir dulu dong kalo mau menghabiskan uang negara yang notabene uang rakyat ( rakyat yang bayar pajak bumi dan bangunan, pajak sepeda motor butut, karcis parkir) belum terhitung dana-dana pungli yang tidak masuk pada kantong kas negara... Mohon rakyat yang didahulukan penuhi kebutuhan rakyat dulu bukan malah malah memenuhi nafsu partai atau pribadi-pribadi yang mengaku-mengaku sebagai wakil rakyat padahal suara rakyat jarang sekali didengarkan, padahal kebutuhan rakyat sendiri jarang terpenuhi.
Sangat jarang sekali Bapak/Ibu Dewan turun langsung kelapangan melihat kondisi riil rakyat di pedalaman, pedesaan, dikolong jembatan, dipinggir-pinggir kali, mereka hidup dibawah garis kemiskinan dan di bawah ketakutan akan satpol PP, sungguh ironi ketika negeri masih terlilit hutan trilyunan justru bapak/ibu petinggi mau berleha-leha dengan dana aspirasi.
Tobat .... tobat.....Istighfar...

14 November 2008

Sepak bola nasional tercoreng lagi

Lagi-lagi pemukulan anarkhisme terjadi di sepak bola nasonal kita, kali ini tragedi kekerasan di lapangan hijau menimpa kedua wasit (wasit utama dan wasit pengganti). Wasit utama dikeroyok sedemikian rupa (ditendang dan di hantam) laksana film kolosal sehingga tidak bisa memimpin jalannya pertandingan lagi dan digantikan wasit pengganti,. Tapi apa daya namanya preman lapangan hijau, wasit penggantipun tidak luput dari hantaman dan kejaran pemain laksana maling ayam dikejar keliling lapangan hingga kostum wasit yang dikenakan tertarik dan lepas (jadi takut nontong sepak bola nasional apalagi main dan jadi wasit,,,, ngeri...). Terlepas dari alasan apapun yang namanya kekerasan harus ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku (KUHAP pasal 35).
Dan saya sangat mendukung pendapat dan kecaman MENPORA (Bpk. Adyaksa Daud) bahwa pemain harus ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku bahkan dilarang main seumur hidup dipersepak bolaan nasional kitam, hal ini dimaksudkan untuk membuat jera pemain lokal bahkan pemain asing sekalipun, bahwa di negeri kita premanisme lapangan hijau sangat dilarang.
Dan harapan saya semoga KOMDIS PSSI memperhatikan dengan sangat persoalan ini, dan tidak seperti kasus-kasus sebelumnya, yang terkadang sanksi awal begitu berat tetapi ketika banding sanksi akan melempem. Dan buat pak polisi berantas juga premanisme di lapangan hijau jangan cuma di jalanan, terminal, pasar dan stasuin.